29 March 2013

Analisis Independen Kasus Cebongan dan Hugo's

Dua pekan lalu, saat saya pulang kampung, tiba-tiba Jogja (domisili sementara saya sebagai mahasiswa) digemparkan oleh kasus yang cukup membuat orang-orang untuk memperhatikannya. Kasus itu adalah kasus pengeroyokan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup-2 (Kandang Menjangan) yang secara simultan berujung pada kasus ditembaknya beberapa pelaku pengeroyokan anggota Kopassus tersebut di Lapas Cebongan, Sleman. Secara pribadi, sebagai mahasiswa saya tidak memihak diantara instisusi karena tak ada kaitannya dengan saya, sehingga analisis ini bersifat subjektif atas pemikiran saya dengan beberapa data yang ada.
Saya mulai dari kejadian pengeroyokan anggota Kopassus. Anggota Kopassus dikeroyok oleh beberapa orang yang jumlahnya saya kurang yakin dengan yang di media, almarhum dipukul dengan botol, ditikam dengan pisau dan juga botol yang dipakai untuk memukulnya, hingga Sertu Santoso dilarikan ke RS Bethesda dan dalam perjalanan menghembuskan nafas terakhir. Kematian itu kemudian direspon oleh gerak cepat oleh Kepolisian, dengan meringkus dua orang yang terindikasi kasus pengeroyokan terhadap anggota Kopassus yaitu Bripka Juan dan Decky. Menurut data yang saya miliki, mulai ada pertentangan diantara pemberitaan di media, yaitu Bripka Juan bukan anggota aktif Kepolisian lagi, karena tersangkut telah dipecat karena kasus Narkoba, namun saat penangkapan Bripka Juan ditangkap di rumah Dinas?! (Jadi mana yang benar, benarkah Bripka Juan saat penangkapan itu statusnya sudah bukan anggota aktif POLRI atau masih anggota aktif?). Untuk Decky sendiri ialah preman yang memulai terjadinya pengeroyokan. Lalu, di akhir kasus di Cebongan, terdapat 4 orang yang ditembak mati, ya diantaranya adalah dua orang ini, yakni Bripka Juan dan Decky. Sementara dua yang lain adalah Dedy dan Adi. Dedy dan Adi sendiri tidak ditangkap secara serentak oleh penangkapan Bripka Juan dan Decky, namun yang menangkap Dedy dan Adi adalah Intel Korem Jogja, Sertu Sriyono yang keduanya diserahkan ke penyidik Kepolisian. Naas, nyawa Sertu Sriyono melayang akibat dibacok kepalanya oleh seseorang yang belakangan teridentifikasi bernama Marcel, Marcel pun diringkus. Marcel sendiri adalah rekanan dari tersangka, Dedy dan Adi.
Sampai pembahasan ini, sudah 5 orang yang dijadikan tersangka. Malam harinya, menurut Polda DIY karena ruang tahanan sedang direnovasi, maka sebanyak 11 tahanan dititipkan ke Lapas Cebongan, diantaranya ke-empat tersangka, dan yang lainnya adalah tahanan kasus Narkoba Polda DIY. Satu tahanan Marcel, tidak jelas beritanya, yang pasti tidak diikutkan penitipan ke Lapas Cebongan.
Di sinilah dimulainya kejadian pemberondongan ke-4 tersangka titipan Polda DIY, yaitu Bripka Juan, Decky, Dedy dan Adi. Bripka Juan dan Decky ditempatkan satu ruang tahanan, sementara Dedy dan Adi ditempatkan satu ruang juga namun berbeda dengan kedua tahanan lainnya. Saat malam mulai semakin larut, ada beberapa mobil yang mendatangi Lapas Cebongan, beberapa berjaga di luar dan beberapa masuk ke Lapas. orang tidak dikenal ini kemudian memaksa masuk ke Lapas, dengan mengancam terlebih dahulu sipir yang berjaga bahwa Lapas akan diledakkan kalau tidak dibuka. Setelah masuk dan merampas kunci ruang tahanan, beberapa orang yang tidak dikenal dengan memakai penutup wajah dan rompi serta senapan laras panjang ini segera mencari ruang tahanan titipan Polda DIY. Kemudian beberapa orang ini memuntahkan timah panas kaliber 9mm kepada ke-empat tersangka. Setelah menghabisi ke-empat tersangka tersebut, kawanan ini turut membawa CCTV dan Komputernya. Menurut isu, aksi ini hanya berkisar 10 menit saja. Nah sekian kilas balik dua kejadian yang bersimultan ini terjadi tidak memakan waktu 24 jam.
Berikut hasil analisis saya :
Saya menduga kuat, oknum Kepolisian yang melakukan tindakan penyerbuan 4 tersangka di Lapas Cebongan. Ya, memang opini publik yang terbentuk sekarang ialah anggota Kopassus yang melakukannya. Saya beranjak dari kematian Sertu Sriyono, Intel dari Korem Jogja yang menangkap dua orang tersangka pengeroyokan. Marcel tidak ikut dititipkan ke Lapas Cebongan, indikasi kuat ialah Marcel punya informasi tentang tersangka yang masih buron, namun ia kooperatif dengan Kepolisian. Sementara tersangka lainnya, mungkin terlihat membahayakan, sehingga dititipkan ke Lapas Cebongan untuk skenario penyerbuan. Kepolisian sengaja memindahkan 4 orang ini dengan maksud pengamanan saat itu bukan dilakukan oleh Kepolisian saat di Lapas, sehingga penyerbuan itu bisa dilakukan tanpa perlu skenario yang ruwet. Kenapa tidak dititipkan di ruang tahanan Brimob saja atau tetap diamankan di ruang tahanan Polda saja. Karena skenario akan semakin ruwet kalau penyerangan di Polda atau Markas Brimob. Dengan tujuan menciptakan opini publik bahwa TNI (baca Kopassus) yang melakukannya, maka Lapas dipilih untuk menitipkan tahanan ini. Serta dengan eksekusi lapangan seperti layaknya operasi militer rahasia, oleh orang professional. Maka semakin kuat pula bahwa Kopassus adalah pelakunya.
Ini hasil analisis saya. saya sendiri bukan orang lapangan sehingga analisis saya ini mungkin saja melenceng dari kebenaran. Masih banyak sekali sisi-sisi yang belum saya bahas, karena saya tidak memiliki ilmu disitu. Saya sengaja tidak melampirkan foto, karena sangat mengerikan menurut saya. Jika ingin berkomentar, silahkan menambahkan di bawah.
Semoga kebenaran sejati terungkap.

0 comments:

Post a Comment